7 syarat kalimat tauhid

7 Syarat Kalimat Tauhid “Laa Ilaaha Illallooh” لا إله إلا الله

Al-Hasan Al-Bashri bertanya kepada Farozdaq yang sedang mengubur isterinya:

ما أعددت لهذا اليوم؟  قال : شهادة أن لا إله إلا الله منذ سبعين سنة، فقال الحسن : “نعم العدة لكن لـ « لا إله إلا الله » شروطا

“Apa yang engkau persiapkan untuk hari ini (kematian)? Dia menjawab, “Syahadat (persaksian) laa ilaaha illallooh semenjak 70 tahun yang lalu.” Maka Al-Hasan berkata, “Itu sebaik-baik persiapan, akan tetapi kalimat laa ilaaha illallooh itu memiliki syarat-syarat.” (Siyar A’lamin Nubala’ 4/584)

Wahb bin Munabbih (ulama tabiin) ditanya, “Bukankah kunci surga itu “Laa Ilaaha Illallooh”? Maka beliau menjawab:

بلى ولكن ليس من مفتاح إلا له أسنان فإن أتيت بمفتاح له أسنان فتح لك وإلا لم يفتح

“Benar akan tetapi tidaklah disebut kunci kecuali ada geriginya. Apabila engkau memiliki kunci yang bergerigi maka pintu itu akan terbuka, jika tidak, maka pintu itu tidak akan pernah terbuka.” (Hilyatul Awliya’ 4/66)

Sebagaimana sholat memiliki syarat yang menentukan keabsahannya. Begitupula kalimat tauhid juga memiliki syarat-syarat yang ketiadaannya menjadi tidak berguna kalimat tauhid yang dilisankannya.

Para Ulama menyebutkan di antaranya ada 7 syarat kalimat tauhid yaitu :

  1. Berilmu tidak boleh jahil (bodoh) – Al Ilmu,
  2. Yakin tidak boleh ragu – Al Yaqin,
  3. Ikhlas tidak boleh syirik – Al Ikhlas,
  4. Menerima tidak boleh menolak – Al Qabulu,
  5. Jujur tidak boleh dusta – As Shidqu,
  6. Tunduk tidak boleh meninggalkan – Al Inqiyadu,
  7. Cinta tidak boleh benci – Al Mahabbah.

Penjelasan 7 Syarat Kalimat Tauhid

1. ILMU TENTANG MAKNA DARI LAA ILAAHA ILLALLAH

syarat Laa Ilaaha Illallah adalah pengetahuan atau ilmu tentang makna dari Laa Ilaaha Illallah. Yaitu seorang mengetahui makna Laa Ilaaha Illallah yang mengandung dua rukun. Yaitu peniadaan dan penetapan.

Juga ia mengetahui maksud dari Laa Ilaaha Illallah. Yaitu untuk menjahitkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengesakanNya dalam perkara-perkara ibadah. Juga mengikhlaskan seluruh perbuatan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Juga seorang yang mengatakan Laa Ilaaha Illallah dituntut untuk mengingkari semua sembahan-sembahan yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana telah kita sebutkan ayat-ayat yang sangat banyak yang menjelaskan tentang makna Laa Ilaaha Illallah. Diantaranya adalah Firman Allah:

اعْبُدُوا اللَّـهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـٰهٍ غَيْرُهُ

Sembahlah Allah, kalian tidak mempunyai sesembahan kecuali Dia.” (QS. Al-A’raf[7]: 59)

Juga firman Allah:

وَاعْبُدُوا اللَّـهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Dan sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersatukanNya dengan sesuatu apapun.” (QS. An-Nisa[4]: 36)

Juga firman Allah:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّـهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar mereka menyembah hanya kepada Allah dengan mengikhlaskan agama hanya kepadaNya.” (QS. Al-Bayyinah[98]: 5)

Adapun perkataan Syaikh bin Baz Rahimahullah:

المُنافي للجهل

“Yang bertentangan dengan kebodohan.”

Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu yang benar, pemahaman yang lurus tentang makna kalimat Laa Ilaaha Illallah. Ia mengeluarkan dia dari jalannya orang-orang bodoh. Karena seorang yang mengatakan Laa Ilaaha Illallah tanpa mengetahui maknanya, tanpa mengetahui maksudnya, maka perkataan tersebut tidak bermanfaat baginya.

Allah berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّـهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

Dan ketahuilah bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan memohon ampun atas dosa-dosamu juga mohonkanlah ampuh untuk seluruh kaum Mukminin dan Mukminat” (QS. Muhammad[47]: 19)

Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai dengan ilmu. Karena ilmu adalah pondasi dari syarat Laa Ilaaha Illallah. Kemudian juga Allah berfirman:

إِلَّا مَن شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Kecuali orang yang mempersaksikan dengan kebenaran dan mereka mengetahui.” (QS. Az-Zukhruf[43]: 86)

Para ahli tafsir menafsirkan ayat ini, mereka mengatakan, “kecuali orang yang menyaksikan bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan mereka mengetahui arti dari apa yang mereka ucapkan dan mereka saksikan.”

Juga dalam shahih Muslim dari Nabi kita ‘Alaihish Shalatu was Salam, beliau bersabda:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang mati dan ia mengetahui bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah, ia akan masuk surga.” (HR. Muslim)

Dalam hadis ini Rasulullah mensyaratkan ilmu.

2. KEYAKINAN ATAS KALIMAT TAUHID

Syarat yang kedua yaitu keyakinan yang menghilangkan segala keragu-raguan. Dan keyakinan adalah ilmu yang sempurna. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّـهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا

Sesungguhnya orang-orang yang benar-benar beriman yaitu mereka yang beriman kepada Allah dan RasulNya, kemudian mereka tidak ragu.” (QS. Al-Hujurat[49]: 15)

Artinya mereka yakin dan tidak ragu sama sekali. Karena iman dan tauhid dituntut untuk seseorang meyakininya. Dan ‘aqidah yang benar adalah ‘aqidah yang tertanam kuat dalam hati. Adapun seseorang yang ragu-ragu, maka tidak akan diterima darinya ucapan Laa Ilaaha Illallah.

Dalam Kitab shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi kita ‘Alaihish Shalatu was Salam, beliau bersabda:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ لَا يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah, tidaklah seorang hamba bertemu Allah dengan berpegang teguh padanya tanpa ada keraguan niscaya dia masuk surga” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mensyaratkan keyakinan. Yaitu tidak adanya keraguan sama sekali. Dalam hadits yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ لَقِيتَ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ

“Siapa yang engkau temui di belakang tembok ini dan ia menyaksikan bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah, dan ia yakin dalam hatinya. Maka berilah kabar gembira dengannya surga.” (HR. Muslim)

Maka seorang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah harus muncul dari hatinya yang penuh dengan keyakinan dan tidak ada keraguan sama sekali. Dan apabila ada keraguan sedikitpun maka tidak akan diterima ucapan tersebut walaupun ia mengulanginya berkali-kali.

3. IKHLAS KETIKA MENGUCAPKAN KALIMAT TAUHID

Syarat yang ketiga dari syarat-syarat Laa Ilaaha Illallah adalah ikhlas ketika mengucapkannya. Keikhlasan tersebut mengangkat dan menghilangkan kesyirikan dan riya’. Sebagaimana firman Allah Tabaraka wa Ta’ala:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّـهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali agar mereka beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama hanya kepadaNya.” (QS. Al-Bayyinah[98]: 5)

Juga firman Allah ‘Azza wa Jalla:

أَلَا لِلَّـهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

Dan ketahuilah hanya milik Allah agama yang murni.” (QS. Az-Zumar[39]: 3)

Juga dalam hadits yang shahih dari Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau bersabda:

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، خَالِصًا مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ

“Manusia yang paling berbahagia dengan syafaatku pada hari kiamat yaitu yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah ikhlas dari hatinya.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mensyaratkan keikhlasan. Yaitu keikhlasan yang muncul dari hati yang ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia tidak menginginkan dengan kalimat ini kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya milik Allah agama yang murni.

Dan kata “الْخَالِصُ” adalah yang murni, yang bersih, yang tidak ada sedikitpun campuran kesyirikan atau keriya’an. Dan untuk mengetahui makna ikhlas, perhatikan firman Allah Tabaraka wa Ta’ala:

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً ۖ نُّسْقِيكُم مِّمَّا فِي بُطُونِهِ مِن بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِّلشَّارِبِينَ ﴿٦٦﴾

Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (QS. An-Nahl[16]: 66)

Kata الْخَالِصُ dalam ayat ini adalah yang murni, yang bersih, tidak ada campuran darah juga tidak ada campuran kotoran. Padahal susu tersebut keluar dari antara kotoran dan darah. Akan tetapi susu tersebut keluar dalam keadaan murni dan sangat bersih.

Begitu pula ikhlas dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, harus murni, harus bersih, tidak ada sedikitpun keinginan kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka barangsiapa yang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ibadahnya, maka ia telah keluar dari kesucian dan kemurnian. Dan ibadah tersebut akan ditolak oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam Hadits Qudsi, Allah ‘Azza wa Jalla mengatakan:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku adalah Dzat yang paling tidak butuh dengan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang ia mempersekutukan Aku dengan selainKu, maka Aku meninggalkannya dan sekutunya.” (HR. Muslim)

Dan keikhlasan ini tempatnya dan sumbernya adalah hati. Oleh karena itu penulis kitab ini Rahimahullah mengatakan:

خالصًا من قلبه

“Murni dari hatinya”

4. MENERIMA LAA ILAAHA ILLALLAH

Menerima kalimat tauhid ini, juga menerima kandungan dari kalimat ini dari tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan keikhlasan seluruh ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang keadaan orang-orang musyrikin:

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّـهُ يَسْتَكْبِرُونَ ﴿٣٥﴾ وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُونٍ ﴿٣٦﴾

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri,dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?”” (QS. Ash-Shaffat[37]: 36)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keadaan mereka, bahwasanya mereka apabila dikatakan Laa Ilaaha Illallah, mereka enggan untuk menerima kalimat ini tidak menerima kandungan dari kalimat La Ilaha Illallah.

5. KEJUJURAN

Syarat yang kelima dari syarat-syarat Laa Ilaaha Illallah yaitu kejujuran ketika seseorang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah. Yaitu ia mengucapkannya jujur dari hatinya. Dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ ، إِلَّا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

“Tidaklah seseorang mempersaksikan bahasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah jujur dari hatinya, kecuali Allah akan haramkan baginya neraka.”

Dalam hadits ini Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam mensyaratkan kejujuran ketika mengucapkan kalimat ini. Kejujuran adalah ketika seseorang mengucapkan dengan lisannya sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya.

Adapun jika ia mengucapkan sekedar dengan lisannya dan ia tidak meyakini dalam hatinya, maka ia adalah orang munafik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّـهِ ۗ وَاللَّـهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّـهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ ﴿١﴾

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS. Al-Munafiqun[63]: 1)

Yaitu mereka berdusta terhadap apa yang mereka ucapkan dengan liasannya. Mereka tidak meyakini dalam hati-hati mereka. Maka barangsiapa yang sekedar mengucapkan dengan lisannya dan hatinya tidak meyakini apa yang ia ucapkan, berarti dia tidak jujur dan tidak diterima apa yang ia ucapkan.

6. KETUNDUKAN

Serat yang ke-6 dari syarat-syarat Laa Ilaaha Illallah yaitu ketundukan. Yang artinya seseorang tunduk, berserah diri, patuh terhadap perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Laa Ilaaha Illallah artinya adalah seorang hamba menyerahkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tunduk terhadap syariatNya, taat terhadap perintah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَمَن يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّـهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ

Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ia berbuat baik, maka sungguh ia telah berpegangan dengan tali yang kuat.” (QS. Luqman[31]: 22)

Dan yang dimaksud disini adalah Laa Ilaaha Illallah.

Juga Allah berfirman:

وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ

Dan kembalilah kepada Rabb kalian dan serahkanlah diri kalian kepadaNya.” (QS. Az-Zumar[39]: 54)

Artinya, tunduklah kalian, taatlah terhadap perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena orang yang benar-benar mengucapkan Laa Ilaaha Illallah yaitu mereka yang menyerahkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tunduk dan patuh terhadap segala perintah-perintah Allah ‘Azza wa Jalla.

7. CINTA

Syarat yang kelima dari syarat-syarat Laa Ilaaha Illallah adalah mencintai kalimat ini. Yaitu ia mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, mencintai RasulNya, mencintai agama Islam dan mencintai kaum Muslimin yang senantiasa melaksanakan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak melanggar batasan-batasan yang ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Juga ia membenci orang-orang yang menentang Laa Ilaaha Illallah dan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kalimat Laa Ilaaha Illallah dari perbuatan syirik dan perbuatan kufur.

Diantara dalil yang menunjukkan syarat mahabbah (cinta) yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang orang-orang kafir dan orang-orang musyrikin:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّـهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّـهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّـهِ

“Dan di antara manusia ada orang yang menjadikan selain Allah sekutu-sekutu, tandingan-tandingan yang mereka mencintai sekutu-sekutu tersebut seperti mereka mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun orang-orang yang beriman, mereka sangat cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-Baqarah[2]: 165)

Karena kecintaan orang-orang yang beriman kepada Allah adalah kecintaan yang murni. Adapun kecintaan orang-orang musyrikin kepada Allah adalah kecintaan yang ia samakan selain Allah dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh karena itu orang-orang musyrikin pada hari kiamat ketika masuk neraka mereka mengatakan:

تَاللَّـهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ ﴿٩٧﴾ إِذْ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٩٨﴾

Sesungguhnya dahulu kami termasuk orang yang berada dalam kesehatan yang nyata. Karena kami menyamakan kalian dengan Rabb semesta alam.” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 97-98)

Maka kalimat Laa Ilaaha Illallah akan bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya jika muncul dari kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kecintaan terhadap kalimat yang agung ini. Juga kecintaan terhadap makna dari kalimat Laa Ilaaha Illallah, dari tauhid, dari keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, juga mencintai orang-orang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, mencintai amalan-amalan yang dilakukan oleh mereka.

Diantara do’a yang sangat agung yang dianjurkan dan diajarkan oleh Nabi kita ‘Alaihish Shalatu was Salam, hendaknya kita selalu mengulang-ulang do’a ini:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ

“Dan aku memohon kepadaMu agar aku mencintaiMu dan mencintai orang yang mencintaiMu dan mencintai amalan yang mendekatkan aku kepada kecintaan kepadaMu.” (HR. Tirmidzi)

Dalam hadits Anas Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bahwasanya beliau bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu (1) barangsiapa yang Allâh dan Rasûl-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allâh. (3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allâh menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam Neraka” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ada tiga perkara; pokok, cabang dan lawan dari perkara tersebut. Yaitu yang pertama pokok adalah kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Cabangnya adalah mencintai apa yang Allah cintai dan yang bertentangan dengan hal tersebut yaitu seorang membenci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya dari kekufuran tersebut sebagaimana Ia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.

Sumber :

  1. https://t.me/manhajulhaq
  2. https://www.radiorodja.com/46609-syarat-syarat-laa-ilaaha-illallah
Loading...