KangDede

Mengenal Arti Tauhid dan Pentingnya Mempelajari Tauhid Bagi Kita dan Keluarga

Agama Islam merupakan agama yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wata’Ala yang merupakan Rabb pencipta alam semesta beserta isinya dengan tujuan untuk keselamatan manusia baik di dunia maupun diakhirat. Didalam agama Islam terdapat berbagai aturan/hukum (law) yang mengatur hubungan antara manusia dengan tuhan dan manusia dengan manusia maupun alam semesta ini, tiada lain agar kehidupan didunia ini teratur dan seimbang.

Untuk mempelajari Islam, para ulama telah membagikan berbagai cabang ilmu dengan tujuan untuk mempermudah mengenal Islam lebih dalam. Cabang -cabang ilmu tersebut antara lain adalah ilmu Tauhid / aqidah, ilmu fiqih, ahlak dan lain sebagainya.

Untuk kita yang ingin mengenal Islam dari awal, ada baiknya kita mempelajari dulu pondasi Islam yang sesungguhnya yaitu Tauhid. Boleh dibilang Tauhid ini merupakan salah satu bagian terpenting didalam agama Islam, karena tujuan diciptakan manusia tiada lain untuk meng-Tauhidkan Allah sang Maha Pencipta.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” (Q.S Adz-Dzaariyaat ayat 56)

Apakah Tauhid Itu?

Tauhid secara bahasa berarti Menge-Esakan sedangkan secara istilah berarti mengEsakan Allāh di dalam beribadah. Seperti yang disampaikan oleh Allah SWT didalam Qur’an surat Adzariyaat ayat 56 diatas, bahwasannya Allah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada Allah.

Ibnu Abbas berkata bahwa semua penyebutan ibadah dalam al-Quran maknanya adalah tauhid (Tafsir al-Qurthuby (18/193). Artinya, jika dalam al-Quran terdapat perintah untuk beribadah kepada Allah, maksudnya adalah tauhidkan Allah atau sembahlah (beribadahlah) hanya kepada Allah. Karena itu, makna ayat ini adalah: Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali agar mereka beribadah hanya kepadaKu.

Ibadah adalah penghambaan. Segala macam perbuatan atau ucapan yang dicintai dan diridhai oleh Allah adalah ibadah. Termasuk juga amalan hati seperti cinta kepada Allah, tunduk; menghinakan dan merendahkan diri, takut, berharap, tawakkal, semuanya adalah ibadah.

Jika di dalam al-Quran dan hadits terdapat perintah terhadap sesuatu, maka sesuatu itu adalah ibadah. Jika Allah dan RasulNya melarang sesuatu, maka meninggalkan sesuatu itu adalah ibadah.

Oleh karena itu maka, seseorang tidak dinamakan bertauhid sehingga dia meninggalkan peribadatan kepada selain Allāh, seperti:

• Berdo’a kepada selain Allāh;
• Bernadzar untuk selain Allāh;
• Menyembelih untuk selain Allāh, dll

Sebaliknya jika ada seseorang beribadah kepada Allāh dan menyerahkan sebagian ibadah kepada selain Allāh, siapapun dia, entah itu seorang Nabi, Malaikat atau yang lain maka inilah yang dinamakan dengan syirik yaitu menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla di dalam beribadah.

Mengapa Kita Wajib Mempelajari Tauhid?

Saudaraku seiman yang semoga dirahmati Allah, sesungguhnya mempelajari tauhid adalah wajib bagi seorang muslim baik itu laki-laki maupun perempuan, karena kita telah diperintahkan oleh Allah untuk beribadah (mentauhidkan) Allah semata sebagaimana telah dijelaskan diatas, berkaitan dengan surah Adzariyaat ayat 56. Hal ini adalah alasan pertama mengapa kita harus mempelajari tauhid, yaitu karena tauhid adalah inti ajaran agama Islam yang diturunkan Allah melalui rasulnya. Sehingga seseorang dikatakan belum mengenal agama islam, apabila belum mengerti tauhid.

Alasan kedua mengapa kita harus mempelajari tauhid adalah karena tauhid adalah kunci untuk masuk kedalam surga. Seseorang yang memiliki tauhid, maka dia akan masuk surga walaupun terkadang ia akan diadzab terlebih dahulu atas dosa-dosa yang dia lakukan.

Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ ، أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ ، وَرُوحٌ مِنْهُ ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ

’’Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh, tidak ada sekutu bagiNya dan bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hambaNya dan juga RasulNya dan bersaksi bahwasanya ‘Isa adalah hamba Allāh dan juga RasulNya dan kalimatNya yang Allāh tiupkan kepada Maryam dan ruh dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan bersaksi bahwasanya surga adalah benar dan neraka adalah benar maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan memasukan dia ke dalam surga, sesuai dengan apa yang telah dia amalkan‘’ (HR. Bukhari, no. 3435 dan Muslim, no. 28)

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

مَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak berbuat syirik kepada Allah dengan sesuatu apa pun, maka ia akan masuk surga. Barangsiapa yang mati dalam keadaan berbuat syirik kepada Allah, maka ia akan masuk neraka.” (HR. Muslim, no. 93)

Dengan bertauhid akan menghapuskan dosa-dosa, baik itu dosa kecil maupun dosa besar yang menggunung. Hal ini disampaikan langsung oleh Rasulullah Shallalahu alaihi wasalam, bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

…وَمَنْ لَقِيَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطِيْئَةً لاَيُشْرِكُ بِي شَيْئًا، لَقِيْتُهُ بِمِثْلِهَا مَغْفِرَةً” رواه مسلم

Allâh Azza wa Jalla berfirman, “…Dan barangsiapa menjumpai-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Aku, maka Aku akan menjumpainya dengan ampunan yang sepenuh bumi pula“ [HR Muslim. HR. Tirmidzi, no. 3540. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan]

Dalam Sunan Tirmidzi, dari Anas Radhiyallahu anhu , beliau mengatakan bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allâh Tabaraka wa Ta’ala berfirman :

يَاابْنَ آدَمَ! إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَتُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

Wahai anak Adam! Sesungguhnya jika engkau datang menghadap kepada-Ku dengan membawa kesalahan-kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau datang kepada-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Ku, maka Aku akan datang kepadanya dengan membawa ampunah sepenuh bumi pula [ Shahîh Muslim Bisyarhi an-Nawawi, Tahqîq wa Takhrîj: ‘Ishâm ash-Shababithiy Hazim Muhammad dan ‘Imad ‘Amir. Daar al-Hadits, Kairo, cet. III, 1419 H/1998 M]

Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, kita dapat mengetahui bahwa sesungguhnya mempelajari ilmu tauhid teramat penting, sehingga kita harus bersungguh – sungguh mempelajari tauhid serta mengajak keluarga kita untuk bertauhid pula agar kita bisa masuk surga bersama keluarga.

Pentingnya Dakwah Tauhid Kepada Keluarga Kita

Keluarga, tentu merupakan orang-orang tercinta dan terdekat dengan kita, terdiri dari istri, anak, orang tua, saudara kandung, bahkan tetangga / sahabatpun sering kita menganggapnya seperti saudara kita sendiri.

Kita tentu menginginkan yang terbaik untuk saudara-saudara kita, karena hal ini merupakan salah satu kesempurnaan iman. Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam bersabda :

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak (sempurna) iman salah seorang dari kalian sampai mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR: Bukhari dan Muslim)

Bentuk cinta terbaik bagi kita kepada keluarga kita adalah menginginkan kebaikan kepada keluarga kita dengan cara mengajak untuk beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wata ‘Ala, agar bisa masuk kedalam surga dan berkumpul melihat wajah Allah Subhanahu wata’ala serta terhindar dari siksa api neraka. Allah Subhanahuwata’ala telah memerintahkan kita untuk memelihara diri sendiri dan keluarga kita dari siksa api neraka.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.[ Al-Quran Surat At-Tahrîm/66 ayat : 6]

Dan salah satu jalan paling utama seperti yang telah dijelaskan diawal, bahwa agar kita bisa masuk surga yang telah dijanjikan Allah adalah dengan bertauhid. Hal ini telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam, Beliau telah berusaha menjaga keluarganya dari praktek kesyirikan dan menjaga agar selalu bertauhid.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجْعَلْ هَٰذَا ٱلْبَلَدَ ءَامِنًا وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ ٱلْأَصْنَامَ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala [Qur’an Surah Ibrahim Ayat 35]

Selain Nabi Ibrahim Alaihissalam, menjaga keluarga dari perbuatan syirik juga telah dilakukan Luqman. Hal ini diriwayatkan didalam Alqur’an surah Luqman ayat ke 13 :

وَإِذْ قَالَ لُقْمَٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”

Demikianlah, orang-orang salih pendahulu kita telah berusaha untuk menjaga tauhid keluarganya serta mencegah praktik kesyirikan. Oleh karena itu mari kita jaga pula diri kita serta keluarga dan orang-orang terdekat kita untuk senantiasa mentauhidkan Allah serta menjauhi segala kesyirikan. Dengan demikian mari kita bersama-sama untuk selalu selalu belajar tentang Arti Tauhid dan Pentingnya Mempelajari Tauhid bagi kita dan keluarga.

Daftar Pustaka :

Exit mobile version